Fase Mekah

Sebelum masa kenabian dan kerasulan


Ringkasan nasab nabi ï·º:
Disebutkan oleh sejarawan ternama, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam An-Nahwi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Hisyam dalam kitab beliau: Sirah Nabawiyah bahwa nama lengkap nabi ï·º adalah: 
Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthalib, dan nama Abdul Muthalib: Syaibah bin Hasyim, dan nama Hasyim: Amer bin Abdi Manaf, dan nama Abdi Manaf: Mughirah bin Qushai, dan nama Qushai: Zaid bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah, dan nama Mudrikah: Amir bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.

Ibnu Hisyam memulai kitab sirahnya dengan menyebutkan nabi Ismail bin Ibrahim - alaihimas salam - dan anak yang melahirkan Rasululah ï·º dari putranya serta anak-anak dari keturunannya, satu demi satu, dari Ismail hingga Rasulullah ï·º.


Dalam kitabnya ini, Ibnu Hisyam berupaya untuk meninggalkan sebagian perkara yang telah disebutkan oleh pendahulunya, Ibnu Ishaq dari hal-hal yang tidak disebutkan oleh Rasulullah ï·º, dan apa yang tidak diturunkan Allah di dalam Al-Quran, serta apa yang bukan merupakan alasan atau tafsiran maupun sebab apapun di dalam kitabnya ini. Termasuk beberapa lirik syair yang beliau lihat para ahli syair tidak mengenalnya.


Abdul Muthalib bernazar menyembelih putranya.


Dahulu Abdul Muthalib bin Hasyim - menurut anggapan mereka wallahu a'lam - telah bernazar manakala bangsa Quraisy mendapatkan apa yang mereka dapatkan dari menggali sumur zamzam: yaitu jika terlahirkan untuknya sebanyak sepuluh anak lelaki, maka dia akan menyembelih salahsatu dari anak-anak nya di depan Ka'bah. Dan sampailah berita itu kepada mereka kaum Quraisy dan mereka pun melarangnya.


Dan setelah putranya genap berjumlah sepuluh anak, dan dia tahu bahwa kaum Quraisy akan melarangnya, maka Abdul Muthalib mengumpulkan mereka dan memberitahu mereka tentang nazarnya, dia undang mereka untuk memenuhi nazarnya karena Allah, mereka pun menurutinya dan mengatakan: "bagaimana kami melakukannya?" Dia berkata: "hendaknya setiap orang mengambil satu keping kayu dan menuliskan pada kepingan itu namanya, kemudian berikan kepadaku".


Maka merekapun melakukannya dan memberikan kepingan-kepingan itu kepadanya, kemudian dia masuk membawa kepingan-kepingan itu kepada berhala Hubal di dalam Ka'bah, dan dahulu Hubal berada pada sebuah sumur yang ada di dalam Ka'bah, dan sumur itu merupakan tempat berkumpulnya persembahan yang diberikan untuk Ka'bah.


Berkata Abdul Muthalib kepada pemilik kepingan kayu: "undi lah atas nama putraku dengan kepingan-kepingan ini - dan beliau memberitahukan kepada Abdullah akan nazarnya - kemudian dia berikan setiap anak dari mereka kepingan yang terdapat namanya, dan Abdullah bin Abdil Mutthalib adalah anak paling kecil dari keturunannya.


Berkata Ibnu Ishaq: "Abdullah - menurut anggapan mereka - adalah putra kesayangan Abdul Muthalib, dan Abdul Muthalib menilai bahwa anak panah bila salah sasaran maka Abdullah akan tetap hidup, dan Abdullah adalah ayah Rasulullah ï·º".


Ketika pemilik kepingan mulai mengambil kepingannya untuk diundi, Abdul Muthalib berdiri di hadapan Hubal berdoa kepada Allah, kemudian pemilik kepingan pun mengundi kepingannya, maka keluarlah nama Abdullah, maka Abdul Muthalib pun memegang tangan Abdullah dan mengambil pisau, kemudian membawa Abdullah menghadap Isaf dan Naila (¹) untuk menyembelih Abdullah, maka kaum Quraisy pun berdiri dari kelompoknya, dan berkata: "mau apa kamu wahai Abdul Muthalib?"

Dia menjawab: "saya ingin menyembelihnya".

Maka kaum Quraisy dan putra-putranya berkata kepadanya: "demi Allah, selamanya jangan kamu menyembelihnya hingga diberikan alasan untuknya, karena jika kamu melakukan itu maka akan terus ada orang yang datang menyembelih putranya, maka tidak ada lagi yang tersisa dari bangsa Quraisy karena ini??!".


Dan berkata Mughirah bin Abdillah bin Amer bin Makhzum bin Yaqzhah kepada Abdul Muthalib, dan Abdullah (ayah Rasulullah ï·º) adalah putra dari saudara perempuan kaum Quraisy: "demi Allah, jangan kamu menyembelihnya selamanya hingga diberikan alasan tentang urusannya, dan jika tebusannya adalah dengan harta-harta kami maka kami akan menebusnya".


Kaum Quraisy dan putra-putranya berkata kepadanya: "jangan kamu lakukan, dan bawalah dia ke negeri Hijaz, karena di sana ada seorang dukun wanita yang memiliki pengikut, maka tanyakan kepadanya, kemudian kamu taati perintahnya, jika dia memerintahkan untuk menyembelih Abdullah maka sembelihlah dia, dan jika dia memberikan jalan keluar untukmu dan untuknya maka terimalah".


Maka mereka pun pergi hingga tiba di kota Madinah, lalu dia menemui dukun wanita tersebut - menurut anggapan mereka - di Khaibar, maka merekapun pergi menemuinya dan bertanya, dan Abdul Muthalib mengisahkan kepadanya berita tentang dirinya dan perihal putranya, dan apa yang dia inginkan terhadap putranya dan nazarnya, maka dukun wanita itu pun berkata kepadanya: "kembalilah hari ini dan temui aku lagi nanti hingga pengikut aku mendatangiku maka aku akan bertanya kepadanya".


Maka mereka pun pergi meninggalkan dukun wanita tersebut, dan ketika bersiap menemuinya kembali, Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, kemudian pergi menemui dukun wanita tersebut, maka dukun itu pun berkata kepadanya: "telah datang berita kepadaku, berapa denda yang biasa kalian bayar?" Mereka menjawab: "sepuluh ekor unta", dan itulah dendanya.


Dukun wanita itu berkata: "kembalilah kalian ke kampung halaman kalian, kemudian persembahkan lah putra kalian ini, dan persembahkan sepuluh ekor unta, kemudian undi lah atas nama anak tersebut dan atas nama unta dengan kepingan kayu yang telah tertulis namanya, jika yang keluar undian atas nama putra kalian maka tambahkan untanya sebanyak sepuluh ekor hingga Tuhan kalian merestui, dan jika yang keluar atas nama unta maka sembelihlah unta-unta itu sebagai tebusannya, dan Tuhan kalian telah merestui, dan putra kalian selamat".


Maka mereka pun pergi hingga tiba di kota Mekah, dan ketika mereka telah berkumpul untuk melakukan hal itu, Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, kemudian mereka mempersembahkan Abdullah dan sepuluh ekor unta, dan Abdul Muthalib berdiri di hadapan Hubal berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian mereka mengundi kepingan tersebut dan keluar lah nama Abdullah.


Maka mereka pun menambah sepuluh ekor unta untuk dipersembahkan; sehingga menjadi dua puluh ekor, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian mereka mengundi kepingan dan keluar nama Abdullah.


Maka mereka pun menambah sepuluh ekor unta; sehingga menjadi tiga puluh ekor, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, lalu mereka mengundi kepingan dan keluar nama Abdullah.


Maka mereka pun menambah sepuluh ekor unta; sehingga menjadi empat puluh ekor, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian mereka mengundi kepingan dan keluar nama Abdullah.


Maka mereka pun menambah sepuluh ekor unta; sehingga menjadi lima puluh ekor, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian mereka mengundi kepingan dan keluar nama Abdullah.


Maka mereka pun menambah sepuluh ekor unta; sehingga menjadi enam puluh ekor, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian mereka mengundi kepingan dan keluar nama Abdullah.


Maka mereka pun menambah sepuluh ekor unta; sehingga menjadi tujuh puluh ekor, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian mereka mengundi kepingan dan keluar nama Abdullah.


Maka mereka pun menambah sepuluh ekor unta; sehingga menjadi delapan puluh ekor, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian mereka mengundi kepingan dan keluar nama Abdullah.


Maka mereka pun menambah sepuluh ekor unta; sehingga menjadi sembilan puluh ekor, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian mereka mengundi kepingan dan keluar nama Abdullah.


Maka mereka pun menambah sepuluh ekor unta; sehingga menjadi seratus ekor, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian mereka mengundi kepingan dan keluar nama unta. Maka berkata kaum Quraisy dan orang-orang yang hadir: "telah berakhir restu Tuhanmu kepadamu wahai Abdul Muthalib".


Mereka mengira Abdul Muthalib mengatakan: "tidak demi Allah, sampai aku mengundi sebanyak tiga kali", maka mereka pun mengundi atas nama Abdullah dan atas nama unta, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, maka keluarlah kepingan atas nama unta, dan mereka pun mengulangi kedua kalinya, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, kemudian mereka mengundi kepingan dan keluar lah nama unta, dan mereka mengulang untuk ketiga kalinya, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, kemudian mereka mengundi, dan keluar lah atas nama unta; maka seratus unta pun disembelih, kemudian dibiarkan begitu saja tanpa dihalangi orang untuk mengambilnya dan tidak dilarang.

______

(¹). Isaf dan Nailah merupakan dua berhala kaum Quraisy yang diletakkan oleh Amer bin Luhai di bukit Shafa dan Marwa. 

📒 Sumber artikel: 

1. Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam.

2. Mukhtashar Sirah Nabawiyah, Ahmad Mazid.

3. Lisanul Arab, Ibnu Manzhur.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak dan santun.